Malam Berbudaya Itu Seru

May 22nd, 2008 by jakartabutuhrevolusibudaya

Jakarta Butuh
Revolusi Budaya (JBRB) akan mengadakan sebuah acara yang dinamakan
“Malam Berbudaya Itu Seru.” Terdengar unik bukan? Tentu saja karena
JBRB memang sebuah organisasi yang unik dan berbeda.

Tujuan utama dari acara ini adalah:

  1. Memperkenalkan JBRB kepada masyarakat luas.
  2. Merayakan ulang tahun JBRB yang pertama.
  3. Meluncurkan program Berbudaya Itu Seru (Berburu).

Bagi yang belum tahu, Berburu adalah sebuah pelatihan singkat yang
mengajarkan nilai-nilai budaya positif dan maju kepada murid sekolah
dasar. Sekilas gambaran mengenai Berburu bisa lihat di sini.

Program Berburu sudah berjalan selama tiga bulan di SDN Selong 01
Kebayoran Baru dan acara ini akan menjadi tanda dimulainya roadshow
Berburu di sekolah-sekolah dasar lainnya.

Acara ini akan diadakan di Washington, D.C. pada tanggal 21 Juni
2008 dan Jakarta pada tanggal 28 Juni 2008. Bagi yang tertarik untuk
datang atau menjadi sukarelawan bisa lihat poster acara di sini.

Ayo bakar Jakarta dengan semangat Revolusi Budaya dan tunjukkan bahwa kita bisa berbudaya.

Hubungi tim JBRB Washington, D.C.
Ribka Gemilangsari E: ribkag@gmail.com
Vionindar Trapsilaningrum E: vieo_goofy@yahoo.com

Hubungi tim JBRB Jakarta
Anggie Oktanesya E: a_naditha_o@yahoo.com P: 0856.218.6898
Rusdi Indradewa E: indradewa.rusdi@gmail.com P: 0856.9201.0666

Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan

April 15th, 2008 by jakartabutuhrevolusibudaya

Kita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah
sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan
program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui
permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang
paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin
tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai
bagian kota yang mesti disingkirkan.

Tulisan ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang upaya untuk
mengatasi kemiskinan di perkotaan sekaligus pula untuk meningkatkan
kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin.

Peremajaan Kota

Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur
permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya
yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut
pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk
menghilangkan kemiskinan dari perkotaan.

Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti
dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim
lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan
kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak
berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan
semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi
dengan lokasi permukimannya yang baru.

Di Amerika Serikat, pendekatan peremajaan kota sering digunakan pada
tahun 1950 dan 1960-an. Pada saat itu permukiman-permukiman masyarakat
miskin di pusat kota digusur dan diganti dengan kegiatan perkotaan
lainnya yang dianggap lebih baik. Peremajaan kota ini menciptakan
kondisi fisik perkotaan yang lebih baik tetapi sarat dengan masalah
sosial. Kemiskinan hanya berpindah saja dan masyarakat miskin yang
tergusur semakin sulit untuk keluar dari kemiskinan karena akses mereka
terhadap pekerjaan semakin sulit.

Peremajaan kota yang dilakukan pada saat itu sering disesali oleh
para ahli perkotaan saat ini karena menyebabkan timbulnya masalah
sosial seperti kemiskinan perkotaan yang semakin akut, gelandangan dan
kriminalitas. Menyadari kesalahan yang dilakukan masa lalu, pada awal
tahun 1990-an kota-kota di Amerika Serikat lebih banyak melibatkan
masyarakat miskin dalam pembangunan perkotaannya dan tidak lagi
menggusur mereka untuk menghilangkan kemiskinan di perkotaan.

Aktivitas Hijau oleh Masyarakat Miskin

Paling sedikit saya menemukan dua masyarakat miskin di Jakarta yang
melakukan aktivitas hijau untuk meningkatkan kualitas lingkungan
sembari menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin. Seperti
dapat ditemui di Indonesia’s Urban Studies,
masyarakat di Penjaringan, Jakarta Utara dan masyarakat kampung Toplang
di Jakarta Barat mereka mengelola sampah untuk dijadikan kompos dan
memilah sampah nonorganik untuk dijual.

Aktivitas hijau di Penjaringan, Jakarta Utara dilakukan melalui
program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri yang diprakarsai oleh Mercy
Corps Indonesia. Masyarakat miskin di Penjaringan terlibat aktif tanpa
terlalu banyak intervensi dari Mercy Corps Indonesia. Program berjalan
dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan kumuh di
Penjaringan. Masyarakat di Penjaringan sangat antusias untuk melakukan
kegiatan ini dan mereka yakin untu mampu mendaurlang sampah di
lingkungannya dan menjadikannya sebagai lapangan pekerjaan yang juga
akan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan di lingkungannya.

Sementara itu aktivitas hijau di kampung Toplang, Jakarta Barat
diprakarsai oleh dua orang pemuda kampung tersebut yang juga adalah
aktivis Urban Poor Consortium dan mengetahui bisnis pendaurulangan
sampah. Kedua orang ini mampu meyakinkan rekan-rekan di kampungnya
untuk melakukan kegiatan daur ulang sampah. Seperti yang terjadi di
Penjaringan, masyarakat kampung Toplang mendukung penuh dan antusias
terhadap bisnis pendaurulangan sampah ini. Malahan mereka optimis bahwa
kegiatan mereka juga dapat mendaurulang sampah dari luar kampung mereka
dan menciptakan lebih banyak pendapatan bagi masyarakat kampung Toplang.

Kedua aktivitas hijau tersebut adalah wujud pemberdayaan masyarakat
miskin untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan sekaligus
mengentaskan kemiskinan. Peranan Mercy Corps Indonesia yang
memprakarsai program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri di
Penjaringan, Jakarta Utara dan dua orang aktivis pemuda asal kampung
Toplang yang memprakarsai aktivitas hijau di kampung Toplang adalah
sangat vital dalam upaya pemberdayaan masyarakat ini. Tanpa inisiatif
mereka, pemberdayaan masyarakat miskin tidak akan terjadi dan
kemiskinan tetaplah menjadi masalah di kedua permukiman kumuh tersebut.

Penutup

Cara untuk mengatasi kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan
permukiman masyarakat miskin adalah tidak dengan menggusurnya.
Penggusuran hanyalah menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin
akut dan pelik. Penggusuran atau sering diistilahkan sebagai peremajaan
kota adalah cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan.

Aktivitas hijau seperti yang dilakukan oleh masyarakat Penjaringan
dan Kampung Toplang merupakan bukti kuat bahwa masyarakat miskin mampu
meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan juga mengentaskan
kemiskinan. Masyarakat miskin adalah salah satu komponen dalam
komunitas perkotaan yang mesti diberdayakan dan bukannya digusur.
Solusi yang berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan dan permukiman
kumuh di perkotaan adalah pemberdayaan masyarakat miskin dan bukanlah
penggusuran.

JBRB on VOA

January 17th, 2008 by jakartabutuhrevolusibudaya

Kepada temen2 JBRB, sekedar informasi bahwa kegiatan JBRB akan diliput oleh tim VOA TV langsung di Jakarta tepat nya di Jl.Tulodong atas no.32 (Kegiatan Pusat) di Kawasan SCBD Sudirman. Mohon kehadiran teman2 pada hari Sabtu 19/01/2008 ini. Mari kita sama2 melakukan perubahan.

Keterangan selanjutnya hubungi: Rusdi
085692010666

Perubahan Lanskap Bisnis (2): Pendidikan dan Bahasa Inggris

January 16th, 2008 by jakartabutuhrevolusibudaya

January 10, 2008 by ian

Sebenarnya saya masih ingin membahas Korean Pop industry sebagai lanjutan posting Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop. Tapi kebetulan saya mendapati sebuah video dokumenter yang menarik tentang fenomena lain namun masih seputar Negeri Ginseng. Kali ini berkaitan dengan pendidikan, kasus khususnya bidang bahasa Inggris.

Dengan kasat mata pun kita bisa melihat bahwa Korea telah mencpai tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Pendidikan tentu merupakan salah satu energi utama kesuksesan ini. Dengan sistem yang tak jauh berbeda dengan Indonesia, di mana sekolah tidak gratis, para orang tua di Korea berusaha mati-matian untuk bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Paradigma pendidikan di Korea pun bisa dikatakan mirip dengan kita. Bidang-bidang eksakta masih dianggap berstatus tinggi, profesi medis pun jadi obesesi, dan gelar sarjana sangat menentukan tingkat gaji, kemudahan karir, bahkan pencarian jodoh. Mirip kan dengan kita? Hanya saja itu tadi, pengorbanan mereka sampai keringat kering. Orang tua akan melakukan apa saja agar anak-anak mereka bisa tetap bersekolah tanpa harus bekerja sampingan (karena biaya hidup tidak murah). Bayangkan saja, dengan luas negara yang hanya sedemikian, pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang tinggi, tak heran tiap individu begitu kerasnya berusaha. Ujian masuk universitas (SPMB) sudah begitu mewahnya. Bahkan katanya, ujian masuk SMA saja sudah cukup bergengsi. Karena mereka tak main-main, output yang dihasilkan pun bukan main jadinya.

Masalahnya, persaingan selalu ada dan bahkan semakin meningkat setiap saat. Di era sekarang ini mereka tidak hanya bersaing dengan sesama orang Korea, tapi juga orang-orang dari seluruh dunia. Mungkin analogi saya sedikit imajiner, tapi biarlah. Kasarnya seperti ini: dengan gaya yang sama, permukaan yang lebih kecil akan menghasilkan tekanan yang lebih besar, P = f/A. Masih ingat fisika, kan? Mungkin hukum ini berlaku juga di masyarakat. Dengan wilayah yang hanya 99,646 km persegi (bandingkan dengan pulau Jawa 126,700 km persegi - data Wikipedia), wajar jika tekanan yang mereka rasakan lebih besar daripada tekanan yang dirasakan Amerika Serikat dengan ambisi pendidikan yang sama. Meski menyedihkan, tak cukup mengherankan bila tingkat bunuh diri siswa cukup tinggi. Bayangkan, yang bunuh diri itu masih siswa, bukan rocker yang kecanduan drugs.

Tekanan yang besar dirasakan juga pada bidang bahasa Inggris. Mereka sadar bahwa kompetensi internal harus juga bisa bersaing di tingkat internasional. Akibatnya, ambisi dan obsesi semakin menjadi. Pendidikan sudah menjadi obsesi nasional di Korea, kini bahasa Inggris. Ambisi ini antara lain terwujud dalam lirik lagu yang sudah banyak menyisipkan bahasa Inggris, pemberian judul film (meski percakapannya memakai bahasa Korea), sampai variety show yang diikuti artis-artis yang mempunyai segment bahasa Inggris (misal, Speed English di acara Star Golden Bell). Kini, para orang tua pun mulai mempersiapkan balita mereka agar globally competitive. Di bawah usia 5 tahun anak-anak ini sudah duduk di depan tutor mereka, mendengarkan pelajaran bahasa Inggris dalam bahasa Inggris. Balita di Indonesia ngapain, ya?

Di usia SMA mereka biasanya mempunyai tutor privat dan diharapkan sudah siap dengan kemampuan bahasa Inggris mereka. Obsesi bahasa Inggris ini sendiri sudah menciptakan suatu pasar baru. Lembaga kursus bahasa Inggris dengan native speaker, tutor privat, sampai TK bahasa Inggris jadi trend. Yang cukup membuat saya ngowoh adalah biaya TK berbahasa Inggris berkisar $1000 per bulan. Seperempat sampai sepertiga gaji bulanan middle class di Amerika hanya untuk biaya TK? Biaya yang para orang tua ini keluarkan dalam setahun dikabarkan melebihi anggaran pemerintah untuk pendidikan. Tapi jangan bandingkan dengan anggaran pemerintah kita tercinta. Belum lagi camp yang berjalan mulai dari hitungan minggu sampai bulan di English Village, sebuah kota yang sengaja dibangun untuk menciptakan nuansa luar negeri dengan berbahasa Inggris lengkap dengan imigrasi, kantor polisi, hotel, perpustakaan, teater, dan kafe-kafe. Katanya, bila ketahuan berbicara dalam bahasa selain Inggris bisa kena denda.

Belum cukup sampai di situ, pasar terus berkembang. Mengetahui animo para orang tua yang besar, kini meningkat pula praktek operasi lidah oleh para dokter bedah Korea. Kalau di showbiz ada Dokter Plastik, di dunia pendidikan (bahasa Inggris) ada Dokter Lidah. Para dokter ini mengatakan (setelah riset) bahwa lidah orang Korea secara genetik sulit mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris, terutama lafal L atau R yang memang sedikit rolling. Bagaimana ya, agak susah mengungkapkannya, seperti pengucapan” radio” dalam bahasa Inggris. Jadi, seperti sunat, lidah anak-anak kecil ini dioperasi (dipotong sedikit bagian bawah lidah) sehingga menjadi lebih bebas bergerak. Perubahan memang ada (they’d better be different karena memang dioperasi), tapi sampai sejauh inikah?

Lagi-lagi Korea mengalami perubahan lanskap bisnis yang fenomenal. Merasa ada kesamaan antara dunia hiburan dan pendidikan di Korea dalam perubahan lanskap bisnis? Tampaknya para dokter sedang memegang kendali di balik layar?

Karakteristik Anak Jakarta

January 9th, 2008 by jakartabutuhrevolusibudaya

December 28, 2007 by yonna

Karakteristik anak Jakarta berbeda dengan karakteristik anak daerah. Ada yang positif dan ada pula yang negatif. Sebagai anak Jakarta tulen, saya setuju dan paham terhadap stereotype yang ditujukan pada anak-anak yang lahir dan besar di Jakarta. Mari kita bahas sedikit.

Anak Jakarta dikenal sebagai anak yang semau gue, sombong, tidak mandiri karena suka memerintah orang lain terutama grass root people, cenderung mengeluh saat tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, suka berpendapat yang terkadang mengarah kepada lancang, suka melontarkan kata-kata kotor saat marah, dan tidak mengindahkan etika sopan santun dan tata krama terutama saat bersikap kepada orang yang lebih tua. Sikap positifnya adalah anak Jakarta dikenal lebih pintar, lebih modern, lebih melek teknologi, lebih ramah dan senang bergaul, asertif dan terus terang mengemukakan pendapatnya, fisiknya lebih kuat dan sehat karena mendapat gizi cukup, dan lebih kelihatan bersih dan enak dipandang karena anak Jakarta selalu memperhatikan penampilan mereka.

Dari mana kita bisa mengetahui komentar orang daerah luar Jakarta terhadap anak Jakarta? Pastinya dari sikap kita terutama saat kita pindah ke daerah luar Jakarta atau saat menerima anak baru dari daerah luar Jakarta yang pindah ke Jakarta.

Seperti saat saya liburan ke Semarang, saya bermain sepeda bareng kakak dan saat itu hampir semua orang memelototi kami berdua dengan pandangan heran dan takjub. Merasa risih dan canggung diperlakukan seperti itu akhirnya kami urung melanjutkan tour de country dan pulang. Ternyata penduduk sekitar heran melihat keadaan fisik kami yang kebetulan berkulit putih dan berbicara bahasa Indonesia sehingga menjadi tontonan gratis penduduk sekitar. Saya tidak berniat menyombong dan merendahkan orang Semarang, tetapi memang kenyataannya begitu. Mungkin mereka juga merasa lucu melihat anak kecil main sepeda dan heboh sendiri. Contoh keterusterangan anak Jakarta sewaktu mengemukakan pendapatnya adalah waktu saya liburan ke Purwodadi bertemu dengan saudara yang lahir dan besar di sana. Saat kenalan tanpa segan saya menanyakan, “Bisa bahasa Indonesia kan?” Dan dia mengangguk. Duh ampun jreng, kalau ingat pengalaman itu saya suka ketawa sendiri. Untung dia tidak tersinggung. Karena saya pikir sebagai orang Jawa pasti dia lebih fasih berbahasa Jawa daripada berbahasa Indonesia makanya saya tanya dulu daripada terjadi pembicaraan bilingual di antara kami. Lagipula saya murni bertanya, tidak berniat melecehkan dia, sebagai sikap keterusterangan seorang anak kecil, itu saja.

Masalah lain adalah saat makan. Saat liburan ke Jawa, otomatis saya harus makan makanan khas daerah sana. Ada beberapa menu yang saya suka sampai sekarang dan ada juga yang tidak. Jadi ingat waktu liburan ke Solo, niat untuk wisata kuliner gagal lantaran saya pilih-pilih makanan dan tidak mau makan menu-menu yang tidak familiar. Akhirnya saya makan makanan yang umum saja. Tapi ada satu kuliner Solo yang saya suka yaitu Susu Shijack. Berhubung saya suka minum susu akhirnya cocok saat bertemu warung pinggir jalan yang menjual susu murni dari Boyolali. Kagum saat mengetahui ada warung jualan susu sementara di Jakarta belum ada. Padahal susu bukan kuliner khas, hanya cara menjualnya saja yang khas.

Sebagai bahan introspeksi diri, jika ada sifat buruk khas anak Jakarta dalam diri ini mari kita sama-sama perbaiki dari sekarang. Ingatlah, jika kita menganggap sesuatu itu biasa maka belum tentu dianggap biasa oleh orang lain.

Tangkap dan Gantung si Kancil

December 13th, 2007 by jakartabutuhrevolusibudaya

Pada hari Jumat beberapa minggu yang lalu seperti biasa saya menunaikan ibadah sholat jumat. Setelah sekian lama tidak pernah mendengarkan ceramah jumat yang berkualitas dan berbobot, akhirnya pada hari itu saya mendapat kesempatan untuk menikmati siraman rohani yang lugas, cerdas, dan tidak ketinggalan jaman.

Ada beberapa materi yang dibahas oleh penceramah tersebut, salah satunya adalah analoginya yang menjelaskan mengapa Indonesia menjadi negara yang tertinggal dari negara-negara lainnya. Ia memberikan contoh bagaimana Jepang mampu menjadi sebuah negara yang sangat maju walau harus hancur lebur setelah perang dunia ke-2. Seperti yang kita semua tahu, negara Jepang mengalami kekalahan luar biasa di perang dunia ke-2 yang ditandai dengan dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki oleh pihak sekutu. Menurutnya, alasan utama mengapa bangsa Jepang mampu bangkit dari keterpurukan dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi paling ditakuti di dunia saat ini adalah karena mereka memiliki budaya atau karakter yang kuat. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak kecil di Jepang selalu didongengkan sebuah cerita tentang raja yang dikutuk menjadi katak. Si katak terkutuk harus mampu naik keatas sebuah batu besar agar menjadi raja lagi, padahal batu tersebut sangat besar dan tinggi. Katak berusaha berulang-ulang, ketika ia jatuh dan terlempar ia akan meloncat lagi, lagi, dan lagi. Katak tidak mengenal lelah dan tidak pernah putus asa hingga lama kelamaan kedua kakinya menjadi kuat dan lebih lentur, dan akhirnya ia pun mampu naik ke atas batu dan menjadi seorang raja lagi. Masyarakat Jepang sedari kecil selalu diajarkan untuk tidak pernah lelah dalam memperbaiki diri. Anak-anak di Jepang selalu diajarkan bahwa mereka dapat menjadi apa saja yang mereka mau asalkan mereka fokus dan terus berusaha dalam mengejar impian mereka.

Lalu penceramah bertanya, “Cerita apa yang anak-anak Indonesia dapat?” Sudah pasti jawabannya Si Kancil. Lalu apa kerjanya Si Kancil? Yah, Si Kancil adalah seorang binatang “cerdik” yang kerjanya mencuri timun dan selalu menyusahkan Pak Tani. Anak-anak Indonesia sedari kecil sudah dicuci otaknya bahwa mencuri milik orang lain bukan hal yang tidak baik, tapi justru cerdik. Mungkin saja ini bisa menjadi alasan mengapa negara ini tidak pernah lepas dari kasus korupsi yang menggerogoti uang rakyat karena masyarakat kita tidak suka berusaha keras dan lebih suka memilih jalan pintas untuk memperoleh kemauannya. Maka tidak heran apabila beberapa bulan lalu pemerintah kita dengan bangga berkata, “Kita mengalami kemajuan, kita bukan bangsa terkorup. Kita hanya nomer dua terkorup di Asia.”

Saran saya: Tangkap dan Gantung Si Kancil!

Rejuvenasi Pancasila

December 11th, 2007 by jakartabutuhrevolusibudaya

Dalam sebuah artikel di blog Paramadina,
saya menemukan apa yang saya cari selama ini, sebuah esensi dari
Revolusi Budaya! Menurut artikel tersebut Revolusi Budaya adalah sebuah
Rejuvenasi Pancasila, yaitu semangat untuk mengembalikan Pancasila
seperti apa yang dicita-citakan oleh para Founding Fathers,
Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai alat politik tetapi Pancasila
ditujukan untuk mencapai masyarakat yang mempunyai budaya harmonis,
bermartabat dan mempunyai visi yang luas.

Sejalan dengan artikel tersebut, salah seorang tokoh bangsa ini
yaitu Prof. Dimyati Hartono, Ketua Umum Partai Indonesia Tanah Air Kita
(PITA), dalam salah satu bukunya berusaha mengajak seluruh kader bangsa
untuk melakukan sebuah restorasi terhadap UUD 1945 yaitu melakukan
pelurusan UUD 1945 sesuai dengan visi dan cita-cita dari para Founding Fathers.

Rejuvenasi Pancasila, Restorasi UUD 1945 atau pun Revolusi Budaya
hanyalah sebuah pemikiran dari anak-anak bangsa yang memandang bahwa
Indonesia harus berubah menjadi lebih baik, lebih harmonis, bermartabat
dan mempunyai visi yang luas. Tetapi tanpa kesadaran dan peran tiap
individu masyarakat Indonesia hal ini hanya akan jadi mimpi belaka.
Mari dengan semangat yang tinggi kita jadikan Indonesia menjadi bangsa
yang “Merdeka,” seperti cita-cita para pahlawan bangsa kita dulu.

Pancasila

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Revolusi Budaya ESQ

November 30th, 2007 by jakartabutuhrevolusibudaya

“ESQ adalah Ultimate Intelligence (puncak kecerdasan) dan dengan itu seorang insan kamil mampu bekerja secara cerdas dan penuh keikhlasan dalam memberikan pelayan terbaik, demi tercapainya tujuan perusahaan. Saya selalu mengajak teman-teman kami untuk membaca dan mendalami ESQ beserta Trainingnya.”

–Indra Setiawan mantan Dirut PT. Garuda Indonesia yang menjadi tersangka dalam kasus kematian pejuang HAM Munir–

Dalam artikel ini saya tidak ingin membahas mengenai Indra Setiawan dalam kaitannya dengan pembunuhan Munir dan saya juga tidak mengajak Anda mendalami lebih jauh mengenai ESQ tetapi saya ingin mengajak anda melihat fenomena ESQ dalam melakukan REVOLUSI BUDAYA!.

ESQ (emotional dan spritual Question) adalah fenomena yang sangat powerful dan luar biasa yang diperkenalkan oleh Ary Ginanjar Agustian. Fenomena ini telah membius para pemimpin perusahaan untuk membawa karyawannya mengikuti Training ESQ. Konsep yang dibawa ESQ mengenalkan konsep trilogi iman, islam, dan ihsan dalam keselarasan dan kesatuan Tauhid dengan menggunakan model mekanisme yang sistematis untuk me-manage body, mind and soul secara integral.

Sebenarnya apa yang menarik dari konsep ESQ sehingga konsep ini bisa demikian Fenomenal? Pada dasarnya konsep ESQ sama dengan konsep yang diajarkan secara tradisional tetapi yang sedikit membedakannya adalah ESQ mengenalkan konsep “revolusi budaya” dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana nilai-nilai ketuhanan dalam Asmaul Husna dibawa dalam perilaku sehari-hari seperti kejujuran, integritas, tanggung-jawab, kebijaksanaan, inspirasi, semangat kerja keras, dll. Nilai-nilai inilah yang kemudian dikenalkan oleh Ary sebagai nilai ilahiah yang ada dalam diri manusia. Konsep ketuhanan tidak hanya menjadi nilai filosofis, tetapi harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari (the way of life). Shalat harus dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, puasa harus dapat membuat manusia menjadi orang yang waras, zakat harus menjadikan manusia lebih peduli terhadap sesama, dan sehingga pada akhirnya ibadah dapat melahirkan value of life (kejujuran, integritas, dll) untuk tiap individu dan good culture dalam masyarakat. Dengan konsep inilah Ary telah berhasil membuat banyak korporasi yang mengalami kemajuan atau pertumbuhan setelah mengikuti Training ESQ.

Revolusi Budaya ESQ!

Revolusi budaya yang dilakukan oleh ESQ dapat membuat kita sedikit berbangga hati karena tidak sedikit masyarakat dari berbagai kalangan usia yang mengalami perubahan setelah mengikuti Training ESQ, mereka menjadi lebih baik dalam perilaku sehari-hari dan bukan tidak mungkin apabila pada nantinya impian Ary untuk menciptakan generasi emas bisa tercapai.

Revolusi budaya yang dilakukan oleh ESQ tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan dan dikembangkan oleh para powerful leader (spiritualis) di belahan dunia lainnya, seperti:

1. Soichiro Honda, pendiri Honda Motor dan pemimpin dari 43 perusahaan di 28 negara. Ia tidak memiliki harta pribadi dan tinggal di rumah sederhana. Bahkan ia tidak memberikan warisan kepada anak-anaknya kecuali mengajarkan kepada mereka agar sanggup berusaha sendiri dan hidup mandiri. INILAH REVOLUSI BUDAYA!!!

2. Konosuke Matsushita, pendiri dan pemimpin bisnis raksasa kelas dunia Grup Matsushita. Di akhir hayatnya, Ia menyumbang 291 juta US Dollar dari kantongnya dan 99 US Dollar dari kas perusahaan untuk kepentingan kemanusiaan. Moto hidupnya adalah Life isn’t only for bread. INILAH REVOLUSI BUDAYA!!!

Mereka bisa saja membangun imperium bisnis kelas dunia dan mereka pun memiliki kekayaan yang luar biasa tapi mengapa mereka mempunya perilaku yang luar biasa baiknya, kejujuran, integritas, disiplin, peduli terhadap sesama dan yang tidak kalah pentingnya mereka hidup dalam kondisi yang sederhana? Saya rasa jawabannya adalah para powerful leader di dunia mengkombinasikan kekuatan intelektualitas (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dan melandasinya dengan keikhlasan spritualitas yang ada pada diri mereka. INILAH REVOLUSI BUDAYA ESQ.

Revolusi Budaya bukan untuk mengambil hak seseorang agar tidak menjadi kaya dan sukses, tetapi Revolusi budaya adalah jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih bahagia, terus berusaha menjadi lebih baik, baik dan lebih baik lagi tanpa menginjak hak orang lain. Revolusi Budaya mencoba menyadarkan manusia untuk kembali pada ajaran agama: berlaku baik dan memperjuangkan sesama. Jika manusia berbuat sesuatu yang indah (deliver the best) tentunya itu bukanlah untuk kepentingan Allah melainkan manusia sendirilah yang akan mendapatkan kenikmatan melalui upaya penyerasian terhadap sifat-sifat terdalam (fitrah) miliknya.

“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka sebenarnya keburukan itu adalah bagi dirimu sendiri”.

Tidak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan tetapi akan selalu ada jalan untuk kembali dan berbuat kebaikan. Kecerdasan manusia ada pada hasratnya adalah untuk berubah menjadi lebih baik.

Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Harus.

Revolusi Budaya adalah Jawabnya!

November 29th, 2007 by jakartabutuhrevolusibudaya

April 18, 2007 by guebukanmonyet

Bingung, malas, tidak antusias, capek, jalanan macet, banjir, kemiskinan, rumah kumuh, kriminalitas, dan prostitusi. Inilah sebagian kecil dari jawaban warga Jakarta jika berbincang mengenai kota Jakarta. Apakah sedemikian parahnya wajah kota ini? Mengapa ini bisa terjadi? Jakarta oh Jakarta.

Sebuah ironi bukan? Ketika sebuah ibukota negara harus mengalami kondisi morat-marit seperti ini. Apa yang salah?

Kota Jakarta merupakan kota dengan penduduk yang sangat padat dengan berbagai macam kebudayaan yang dibawa oleh warga pendatang. Kondisi ini membuat Jakarta sarat dengan kebudayaan yang bermacam-macam. Akan tetapi secara garis besar terdapat dua macam jenis budaya dalam perilaku warga Jakarta.

Yang pertama adalah budaya kota. Budaya kota sangat kental dengan sifat individualis, materialisme, kekuatan intelektual, dan kecepatan kerja. Sementara yang kedua adalah budaya desa yang sangat menonjolkan tenggang rasa, kebersamaan tanpa mempedulikan kecerdasan intelektual, maupun kecepatan bekerja. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan kedua budaya tersebut masing-masing mempunyai nilai positif dan negatif.

Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang dengan budaya desa mencoba melakukan aktualisasi diri di kota tanpa dibarengi dengan perubahan budaya. Mereka mencoba hidup di kota dengan mempertahankan budaya desa yang akhirnya menciptakan sebuah ambiguitas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang inilah yang biasa kita sebut “kampungan.”

Orang-orang kampungan ini mencoba mengikuti pergerakan kota tanpa dibarengi kecerdasan intelektual ataupun kecepatan kerja dan parahnya sering kali mereka tidak lagi memegang budaya desa yaitu tenggang rasa dan sopan-santun. Mereka seperti kehilangan jati diri dalam membaur ke dalam lingkungan kota yang memang identik dengan kecerdasan, jaringan (network), dan uang.

Golongan ini merusak tatanan kehidupan yang baik. Mereka tidak mau berkompromi terhadap kecerdasan intelektual ataupun kerja keras serta mereka pun tidak mengedepankan tenggang rasa dan sopan santun lagi. Yang ada di pikiran mereka bagaimana mereka bisa memperoleh yang mereka inginkan. Hak-hak orang lain dirampok tanpa ada perasaan bersalah, melanggar aturan dianggap biasa, melakukan kriminalitas bahkan menjadi hal yang lumrah. Budaya seperti begitu mendarah daging dalam masyarakat kota Jakarta: pelajar, mahasiswa, pegawai pemerintahan, aparat keamanan, pengusaha, supir angkutan, PRT, PKL, dll.

Satu-satunya jalan keluar untuk menuju Jakarta yang lebih baik adalah melakukan revolusi budaya. Mengkombinasikan sisi-sisi positif dari budaya kota dan budaya desa dan melapisinya dengan nilai-nilai spriritual. Mencoba mencetak generasi yang mempunyai kecerdasan intelektual, kecepatan kerja, mempuanyai nilai tenggang rasa, sopan-santun, dan memiliki pengetahuan agama yang baik. Karena generasi emas seperti inilah yang akan mampu membuat Jakarta mempunyai keunggulan komparatif dengan kota-kota lainnya.

Dengan semakin terjepitnya Jakarta oleh pengaruh globalisasi, perbedaan antara orang-orang yang berada di kasta “they have” akan semakin melebar dibandingkan dengan orang-orang yang berada di kasta “they don’t have.” Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin jatuh di dalam lubang kemiskinan: sebuah kondisi yang saat ini pun sudah bisa dirasakan.

Jawabannya adalah revolusi budaya. Revolusi budaya bukan suatu jalan untuk menciptakan kemenangan atau kejayaan untuk golongan tertentu akan tetapi revolusi budaya lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk menyadarkan warga kota Jakarta untuk hidup lebih baik.

“I see skies of blue and red roses too I see them bloom for me and you. And I think to myself what a wonderful world.”

Kebahagian hanya akan tercipta apabila manusia sadar, paham, dan bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Kereta Api, Gila!

November 27th, 2007 by jakartabutuhrevolusibudaya

March 30, 2007 by guebukanmonyet

Tidak perlu diceritakan lagi, fasilitas transportasi di Jakarta
memang memalukan. Baru setelah adanya Busway masyarakat Jakarta bisa
sedikit berbangga. Namun hanya Sedikit.

Coba Anda perhatikan setiap kali kereta api melintasi jalan ibukota
pada jam-jam sibuk. Anda sudah pasti akan melihat pemandangan yang luar
biasa. Ratusan orang melakukan aksi nekat dengan duduk di atas
gerbong-gerbong kereta api yang sudah begitu kuno dan ketinggalan
jaman. Orang asing yang sedang berkunjung ke Jakarta mungkin akan
berdecak kagum melihat pemandangan itu, “Wow. They’re so brave!” Well I
don’t think it’s because they’re brave madam, but they are kepaksa.

Pada tanggal 29 Maret 2007 Detik.com memberitakan bahwa setiap hari
jalur kereta api di Jabotabek dinaiki oleh 19 ribu penumpang gelap
alias penumpang yang gak mau bayar. Luar biasa, 19 ribu orang
tidak membayar fasilitas publik tersebut. Bayangkan berapa kerugian
yang harus dialami oleh PT KA setiap harinya.

Apakah segitu susahnya mengatur orang Jakarta sampai-sampai
PT KA harus mengalami kerugian yang begitu besar setiap harinya? Atau
justru bukan penumpang gelap yang seharusnya disalahkan tapi PT KA?
Mulai dari kondisi kereta api yang jauh dari kelayakan (tidak manusiawi
bung!), jumlah petugas kereta yang tidak cukup serta tidak profesional,
jumlah gerbong yang tidak memadai, hingga jadwal keberangkatan yang
tidak pernah tepat waktu.

Apa pun cerita dan alasannya, yang jelas kondisi transportasi kereta
api di daerah Jabotabek bukan sesuatu yang dapat dibanggakan oleh
masyarakat Jakarta. Pengelola PT KA dan masyarakat Jakarta sama-sama
salah. Memang benar mayorits penumpang kereta api di wilayah Jabotabek
adalah masyarakat menengah kebawah yang dihimpit oleh begitu banyak
masalah ekonomi, namun apakah itu dapat dijadikan sebagai alasan untuk
tidak terciptanya budaya tertib?

Masyakarat Jakarta memang butuh Revolusi Budaya. Titik.