Archive for November, 2007

Revolusi Budaya ESQ

Friday, November 30th, 2007

“ESQ adalah Ultimate Intelligence (puncak kecerdasan) dan dengan itu seorang insan kamil mampu bekerja secara cerdas dan penuh keikhlasan dalam memberikan pelayan terbaik, demi tercapainya tujuan perusahaan. Saya selalu mengajak teman-teman kami untuk membaca dan mendalami ESQ beserta Trainingnya.”

–Indra Setiawan mantan Dirut PT. Garuda Indonesia yang menjadi tersangka dalam kasus kematian pejuang HAM Munir–

Dalam artikel ini saya tidak ingin membahas mengenai Indra Setiawan dalam kaitannya dengan pembunuhan Munir dan saya juga tidak mengajak Anda mendalami lebih jauh mengenai ESQ tetapi saya ingin mengajak anda melihat fenomena ESQ dalam melakukan REVOLUSI BUDAYA!.

ESQ (emotional dan spritual Question) adalah fenomena yang sangat powerful dan luar biasa yang diperkenalkan oleh Ary Ginanjar Agustian. Fenomena ini telah membius para pemimpin perusahaan untuk membawa karyawannya mengikuti Training ESQ. Konsep yang dibawa ESQ mengenalkan konsep trilogi iman, islam, dan ihsan dalam keselarasan dan kesatuan Tauhid dengan menggunakan model mekanisme yang sistematis untuk me-manage body, mind and soul secara integral.

Sebenarnya apa yang menarik dari konsep ESQ sehingga konsep ini bisa demikian Fenomenal? Pada dasarnya konsep ESQ sama dengan konsep yang diajarkan secara tradisional tetapi yang sedikit membedakannya adalah ESQ mengenalkan konsep “revolusi budaya” dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana nilai-nilai ketuhanan dalam Asmaul Husna dibawa dalam perilaku sehari-hari seperti kejujuran, integritas, tanggung-jawab, kebijaksanaan, inspirasi, semangat kerja keras, dll. Nilai-nilai inilah yang kemudian dikenalkan oleh Ary sebagai nilai ilahiah yang ada dalam diri manusia. Konsep ketuhanan tidak hanya menjadi nilai filosofis, tetapi harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari (the way of life). Shalat harus dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, puasa harus dapat membuat manusia menjadi orang yang waras, zakat harus menjadikan manusia lebih peduli terhadap sesama, dan sehingga pada akhirnya ibadah dapat melahirkan value of life (kejujuran, integritas, dll) untuk tiap individu dan good culture dalam masyarakat. Dengan konsep inilah Ary telah berhasil membuat banyak korporasi yang mengalami kemajuan atau pertumbuhan setelah mengikuti Training ESQ.

Revolusi Budaya ESQ!

Revolusi budaya yang dilakukan oleh ESQ dapat membuat kita sedikit berbangga hati karena tidak sedikit masyarakat dari berbagai kalangan usia yang mengalami perubahan setelah mengikuti Training ESQ, mereka menjadi lebih baik dalam perilaku sehari-hari dan bukan tidak mungkin apabila pada nantinya impian Ary untuk menciptakan generasi emas bisa tercapai.

Revolusi budaya yang dilakukan oleh ESQ tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan dan dikembangkan oleh para powerful leader (spiritualis) di belahan dunia lainnya, seperti:

1. Soichiro Honda, pendiri Honda Motor dan pemimpin dari 43 perusahaan di 28 negara. Ia tidak memiliki harta pribadi dan tinggal di rumah sederhana. Bahkan ia tidak memberikan warisan kepada anak-anaknya kecuali mengajarkan kepada mereka agar sanggup berusaha sendiri dan hidup mandiri. INILAH REVOLUSI BUDAYA!!!

2. Konosuke Matsushita, pendiri dan pemimpin bisnis raksasa kelas dunia Grup Matsushita. Di akhir hayatnya, Ia menyumbang 291 juta US Dollar dari kantongnya dan 99 US Dollar dari kas perusahaan untuk kepentingan kemanusiaan. Moto hidupnya adalah Life isn’t only for bread. INILAH REVOLUSI BUDAYA!!!

Mereka bisa saja membangun imperium bisnis kelas dunia dan mereka pun memiliki kekayaan yang luar biasa tapi mengapa mereka mempunya perilaku yang luar biasa baiknya, kejujuran, integritas, disiplin, peduli terhadap sesama dan yang tidak kalah pentingnya mereka hidup dalam kondisi yang sederhana? Saya rasa jawabannya adalah para powerful leader di dunia mengkombinasikan kekuatan intelektualitas (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dan melandasinya dengan keikhlasan spritualitas yang ada pada diri mereka. INILAH REVOLUSI BUDAYA ESQ.

Revolusi Budaya bukan untuk mengambil hak seseorang agar tidak menjadi kaya dan sukses, tetapi Revolusi budaya adalah jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih bahagia, terus berusaha menjadi lebih baik, baik dan lebih baik lagi tanpa menginjak hak orang lain. Revolusi Budaya mencoba menyadarkan manusia untuk kembali pada ajaran agama: berlaku baik dan memperjuangkan sesama. Jika manusia berbuat sesuatu yang indah (deliver the best) tentunya itu bukanlah untuk kepentingan Allah melainkan manusia sendirilah yang akan mendapatkan kenikmatan melalui upaya penyerasian terhadap sifat-sifat terdalam (fitrah) miliknya.

“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka sebenarnya keburukan itu adalah bagi dirimu sendiri”.

Tidak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan tetapi akan selalu ada jalan untuk kembali dan berbuat kebaikan. Kecerdasan manusia ada pada hasratnya adalah untuk berubah menjadi lebih baik.

Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Harus.

Revolusi Budaya adalah Jawabnya!

Thursday, November 29th, 2007

April 18, 2007 by guebukanmonyet

Bingung, malas, tidak antusias, capek, jalanan macet, banjir, kemiskinan, rumah kumuh, kriminalitas, dan prostitusi. Inilah sebagian kecil dari jawaban warga Jakarta jika berbincang mengenai kota Jakarta. Apakah sedemikian parahnya wajah kota ini? Mengapa ini bisa terjadi? Jakarta oh Jakarta.

Sebuah ironi bukan? Ketika sebuah ibukota negara harus mengalami kondisi morat-marit seperti ini. Apa yang salah?

Kota Jakarta merupakan kota dengan penduduk yang sangat padat dengan berbagai macam kebudayaan yang dibawa oleh warga pendatang. Kondisi ini membuat Jakarta sarat dengan kebudayaan yang bermacam-macam. Akan tetapi secara garis besar terdapat dua macam jenis budaya dalam perilaku warga Jakarta.

Yang pertama adalah budaya kota. Budaya kota sangat kental dengan sifat individualis, materialisme, kekuatan intelektual, dan kecepatan kerja. Sementara yang kedua adalah budaya desa yang sangat menonjolkan tenggang rasa, kebersamaan tanpa mempedulikan kecerdasan intelektual, maupun kecepatan bekerja. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan kedua budaya tersebut masing-masing mempunyai nilai positif dan negatif.

Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang dengan budaya desa mencoba melakukan aktualisasi diri di kota tanpa dibarengi dengan perubahan budaya. Mereka mencoba hidup di kota dengan mempertahankan budaya desa yang akhirnya menciptakan sebuah ambiguitas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang inilah yang biasa kita sebut “kampungan.”

Orang-orang kampungan ini mencoba mengikuti pergerakan kota tanpa dibarengi kecerdasan intelektual ataupun kecepatan kerja dan parahnya sering kali mereka tidak lagi memegang budaya desa yaitu tenggang rasa dan sopan-santun. Mereka seperti kehilangan jati diri dalam membaur ke dalam lingkungan kota yang memang identik dengan kecerdasan, jaringan (network), dan uang.

Golongan ini merusak tatanan kehidupan yang baik. Mereka tidak mau berkompromi terhadap kecerdasan intelektual ataupun kerja keras serta mereka pun tidak mengedepankan tenggang rasa dan sopan santun lagi. Yang ada di pikiran mereka bagaimana mereka bisa memperoleh yang mereka inginkan. Hak-hak orang lain dirampok tanpa ada perasaan bersalah, melanggar aturan dianggap biasa, melakukan kriminalitas bahkan menjadi hal yang lumrah. Budaya seperti begitu mendarah daging dalam masyarakat kota Jakarta: pelajar, mahasiswa, pegawai pemerintahan, aparat keamanan, pengusaha, supir angkutan, PRT, PKL, dll.

Satu-satunya jalan keluar untuk menuju Jakarta yang lebih baik adalah melakukan revolusi budaya. Mengkombinasikan sisi-sisi positif dari budaya kota dan budaya desa dan melapisinya dengan nilai-nilai spriritual. Mencoba mencetak generasi yang mempunyai kecerdasan intelektual, kecepatan kerja, mempuanyai nilai tenggang rasa, sopan-santun, dan memiliki pengetahuan agama yang baik. Karena generasi emas seperti inilah yang akan mampu membuat Jakarta mempunyai keunggulan komparatif dengan kota-kota lainnya.

Dengan semakin terjepitnya Jakarta oleh pengaruh globalisasi, perbedaan antara orang-orang yang berada di kasta “they have” akan semakin melebar dibandingkan dengan orang-orang yang berada di kasta “they don’t have.” Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin jatuh di dalam lubang kemiskinan: sebuah kondisi yang saat ini pun sudah bisa dirasakan.

Jawabannya adalah revolusi budaya. Revolusi budaya bukan suatu jalan untuk menciptakan kemenangan atau kejayaan untuk golongan tertentu akan tetapi revolusi budaya lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk menyadarkan warga kota Jakarta untuk hidup lebih baik.

“I see skies of blue and red roses too I see them bloom for me and you. And I think to myself what a wonderful world.”

Kebahagian hanya akan tercipta apabila manusia sadar, paham, dan bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Kereta Api, Gila!

Tuesday, November 27th, 2007

March 30, 2007 by guebukanmonyet

Tidak perlu diceritakan lagi, fasilitas transportasi di Jakarta
memang memalukan. Baru setelah adanya Busway masyarakat Jakarta bisa
sedikit berbangga. Namun hanya Sedikit.

Coba Anda perhatikan setiap kali kereta api melintasi jalan ibukota
pada jam-jam sibuk. Anda sudah pasti akan melihat pemandangan yang luar
biasa. Ratusan orang melakukan aksi nekat dengan duduk di atas
gerbong-gerbong kereta api yang sudah begitu kuno dan ketinggalan
jaman. Orang asing yang sedang berkunjung ke Jakarta mungkin akan
berdecak kagum melihat pemandangan itu, “Wow. They’re so brave!” Well I
don’t think it’s because they’re brave madam, but they are kepaksa.

Pada tanggal 29 Maret 2007 Detik.com memberitakan bahwa setiap hari
jalur kereta api di Jabotabek dinaiki oleh 19 ribu penumpang gelap
alias penumpang yang gak mau bayar. Luar biasa, 19 ribu orang
tidak membayar fasilitas publik tersebut. Bayangkan berapa kerugian
yang harus dialami oleh PT KA setiap harinya.

Apakah segitu susahnya mengatur orang Jakarta sampai-sampai
PT KA harus mengalami kerugian yang begitu besar setiap harinya? Atau
justru bukan penumpang gelap yang seharusnya disalahkan tapi PT KA?
Mulai dari kondisi kereta api yang jauh dari kelayakan (tidak manusiawi
bung!), jumlah petugas kereta yang tidak cukup serta tidak profesional,
jumlah gerbong yang tidak memadai, hingga jadwal keberangkatan yang
tidak pernah tepat waktu.

Apa pun cerita dan alasannya, yang jelas kondisi transportasi kereta
api di daerah Jabotabek bukan sesuatu yang dapat dibanggakan oleh
masyarakat Jakarta. Pengelola PT KA dan masyarakat Jakarta sama-sama
salah. Memang benar mayorits penumpang kereta api di wilayah Jabotabek
adalah masyarakat menengah kebawah yang dihimpit oleh begitu banyak
masalah ekonomi, namun apakah itu dapat dijadikan sebagai alasan untuk
tidak terciptanya budaya tertib?

Masyakarat Jakarta memang butuh Revolusi Budaya. Titik.

Kenapa Orang Jakarta Susah Diatur?

Monday, November 26th, 2007

March 28, 2007 by guebukanmonyet
Pertanyaan ini saya yakin banyak menghinggapi para pemimpin Pemda DKI. “Kok susah banget ya ngatur orang-orang Jakarta?”

Para pemimpin DKI Jakarta bisa jadi iri dengan pemerintah-pemerintah
lokal dari kota-kota besar seperti Paris, Sidney, Washington DC, atau
Tokyo yang dengan mudah mengatur para penduduknya. Setiap ada peraturan
baru mayoritas penduduknya patuh dan “manut” mengikuti. Kalau
masyarakat di Tokyo melihat ada tanda berbunyi “Di Sini Dilarang
Kencing” sudah pasti tidak ada satu orang pun terutama kaum pria yang
berani buar air sembarangan.

Tapi coba masyarakat Jakarta. Walau sudah ditulis gede-gede
pake huruf besar semua “DI SINI DILARANG MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN”
tetap saja tidak ada yang menggubris. Buang sampah sembarangan tetap
jadi salah satu hobi masyarakat Jakarta. Kayaknya malah takut dibilang
“aneh” kalau harus terus megangin sampah sampai menemukan satu tong sampah (yang ternyata juga tidak terlalu tersedia di Jakarta).

Kota sebesar Jakarta memiliki masyarakat yang bangga bilang, “Peraturan itu dibuat untuk dilanggar!” Tragis.