Kereta Api, Gila!

March 30, 2007 by guebukanmonyet

Tidak perlu diceritakan lagi, fasilitas transportasi di Jakarta
memang memalukan. Baru setelah adanya Busway masyarakat Jakarta bisa
sedikit berbangga. Namun hanya Sedikit.

Coba Anda perhatikan setiap kali kereta api melintasi jalan ibukota
pada jam-jam sibuk. Anda sudah pasti akan melihat pemandangan yang luar
biasa. Ratusan orang melakukan aksi nekat dengan duduk di atas
gerbong-gerbong kereta api yang sudah begitu kuno dan ketinggalan
jaman. Orang asing yang sedang berkunjung ke Jakarta mungkin akan
berdecak kagum melihat pemandangan itu, “Wow. They’re so brave!” Well I
don’t think it’s because they’re brave madam, but they are kepaksa.

Pada tanggal 29 Maret 2007 Detik.com memberitakan bahwa setiap hari
jalur kereta api di Jabotabek dinaiki oleh 19 ribu penumpang gelap
alias penumpang yang gak mau bayar. Luar biasa, 19 ribu orang
tidak membayar fasilitas publik tersebut. Bayangkan berapa kerugian
yang harus dialami oleh PT KA setiap harinya.

Apakah segitu susahnya mengatur orang Jakarta sampai-sampai
PT KA harus mengalami kerugian yang begitu besar setiap harinya? Atau
justru bukan penumpang gelap yang seharusnya disalahkan tapi PT KA?
Mulai dari kondisi kereta api yang jauh dari kelayakan (tidak manusiawi
bung!), jumlah petugas kereta yang tidak cukup serta tidak profesional,
jumlah gerbong yang tidak memadai, hingga jadwal keberangkatan yang
tidak pernah tepat waktu.

Apa pun cerita dan alasannya, yang jelas kondisi transportasi kereta
api di daerah Jabotabek bukan sesuatu yang dapat dibanggakan oleh
masyarakat Jakarta. Pengelola PT KA dan masyarakat Jakarta sama-sama
salah. Memang benar mayorits penumpang kereta api di wilayah Jabotabek
adalah masyarakat menengah kebawah yang dihimpit oleh begitu banyak
masalah ekonomi, namun apakah itu dapat dijadikan sebagai alasan untuk
tidak terciptanya budaya tertib?

Masyakarat Jakarta memang butuh Revolusi Budaya. Titik.

3 Responses to “Kereta Api, Gila!”

  1. Dian Ambon Says:

    revolusi budaya…walah engga tau banyak saya tp kalo kereta api mungkin tau karena ngikut krl dari cikini-depok itu makanan sehari2 pas kuliah. Kalau dipikir2 sebenarnya…orang kita bisa kok dipaksa untuk tertib selama aturannya jelas dan memang ada insentifnya. Seperti contohnya..skarang ini kalau tidak pakai safety belt…kalau ketangkap langsung harus bayar denda 200 ribu. Mahaal…polisi engga mau disuap 50 ribu. Jadinya percaya atau tidak orang2 yg paling tidak taat hukumpun pakai safety belt karena engga mau didenda atau bayar suap yg sudah kepalang mahal. Mungkin stikcnya harus dnaikkan. Paling tidak…sekarang Perumka tau berapa kerugiannya…what can be measured can be managed. Questionnya mau tidak perumka sebagai pemilik kereta memanage permasalahan ini…

  2. Jakarta Butuh Says:

    Perumka sebagai badan pemerintahan tentu nya perlu revolusi secara internal dalam “organisasi” mereka, namun mindset peraturan yang kalau dilanggar baru kena denda yang cukup mahal harus di rubah, seperti orang2 budaya barat contohnya, mereka tertib mentaati peraturan karena mereka ingin tertib, karena mereka malu kalau melanggar peraturan. jadi budaya malu itu juga perlu di kampanyekan kembali, thanks atas comment nya Dian Ambon.

  3. Arya Says:

    Budaya tertib is great lah !! But for this situation, imagine those of crowed ’sardencis’ do diciplines..? Bule bule would also do the same thing for this situation. I mean..goverment must have more and more and more trains to take them on… This make passengers do dicipline easier ;)

Leave a Reply