Archive for January, 2008

JBRB on VOA

Thursday, January 17th, 2008

Kepada temen2 JBRB, sekedar informasi bahwa kegiatan JBRB akan diliput oleh tim VOA TV langsung di Jakarta tepat nya di Jl.Tulodong atas no.32 (Kegiatan Pusat) di Kawasan SCBD Sudirman. Mohon kehadiran teman2 pada hari Sabtu 19/01/2008 ini. Mari kita sama2 melakukan perubahan.

Keterangan selanjutnya hubungi: Rusdi
085692010666

Perubahan Lanskap Bisnis (2): Pendidikan dan Bahasa Inggris

Wednesday, January 16th, 2008

January 10, 2008 by ian

Sebenarnya saya masih ingin membahas Korean Pop industry sebagai lanjutan posting Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop. Tapi kebetulan saya mendapati sebuah video dokumenter yang menarik tentang fenomena lain namun masih seputar Negeri Ginseng. Kali ini berkaitan dengan pendidikan, kasus khususnya bidang bahasa Inggris.

Dengan kasat mata pun kita bisa melihat bahwa Korea telah mencpai tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Pendidikan tentu merupakan salah satu energi utama kesuksesan ini. Dengan sistem yang tak jauh berbeda dengan Indonesia, di mana sekolah tidak gratis, para orang tua di Korea berusaha mati-matian untuk bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Paradigma pendidikan di Korea pun bisa dikatakan mirip dengan kita. Bidang-bidang eksakta masih dianggap berstatus tinggi, profesi medis pun jadi obesesi, dan gelar sarjana sangat menentukan tingkat gaji, kemudahan karir, bahkan pencarian jodoh. Mirip kan dengan kita? Hanya saja itu tadi, pengorbanan mereka sampai keringat kering. Orang tua akan melakukan apa saja agar anak-anak mereka bisa tetap bersekolah tanpa harus bekerja sampingan (karena biaya hidup tidak murah). Bayangkan saja, dengan luas negara yang hanya sedemikian, pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang tinggi, tak heran tiap individu begitu kerasnya berusaha. Ujian masuk universitas (SPMB) sudah begitu mewahnya. Bahkan katanya, ujian masuk SMA saja sudah cukup bergengsi. Karena mereka tak main-main, output yang dihasilkan pun bukan main jadinya.

Masalahnya, persaingan selalu ada dan bahkan semakin meningkat setiap saat. Di era sekarang ini mereka tidak hanya bersaing dengan sesama orang Korea, tapi juga orang-orang dari seluruh dunia. Mungkin analogi saya sedikit imajiner, tapi biarlah. Kasarnya seperti ini: dengan gaya yang sama, permukaan yang lebih kecil akan menghasilkan tekanan yang lebih besar, P = f/A. Masih ingat fisika, kan? Mungkin hukum ini berlaku juga di masyarakat. Dengan wilayah yang hanya 99,646 km persegi (bandingkan dengan pulau Jawa 126,700 km persegi - data Wikipedia), wajar jika tekanan yang mereka rasakan lebih besar daripada tekanan yang dirasakan Amerika Serikat dengan ambisi pendidikan yang sama. Meski menyedihkan, tak cukup mengherankan bila tingkat bunuh diri siswa cukup tinggi. Bayangkan, yang bunuh diri itu masih siswa, bukan rocker yang kecanduan drugs.

Tekanan yang besar dirasakan juga pada bidang bahasa Inggris. Mereka sadar bahwa kompetensi internal harus juga bisa bersaing di tingkat internasional. Akibatnya, ambisi dan obsesi semakin menjadi. Pendidikan sudah menjadi obsesi nasional di Korea, kini bahasa Inggris. Ambisi ini antara lain terwujud dalam lirik lagu yang sudah banyak menyisipkan bahasa Inggris, pemberian judul film (meski percakapannya memakai bahasa Korea), sampai variety show yang diikuti artis-artis yang mempunyai segment bahasa Inggris (misal, Speed English di acara Star Golden Bell). Kini, para orang tua pun mulai mempersiapkan balita mereka agar globally competitive. Di bawah usia 5 tahun anak-anak ini sudah duduk di depan tutor mereka, mendengarkan pelajaran bahasa Inggris dalam bahasa Inggris. Balita di Indonesia ngapain, ya?

Di usia SMA mereka biasanya mempunyai tutor privat dan diharapkan sudah siap dengan kemampuan bahasa Inggris mereka. Obsesi bahasa Inggris ini sendiri sudah menciptakan suatu pasar baru. Lembaga kursus bahasa Inggris dengan native speaker, tutor privat, sampai TK bahasa Inggris jadi trend. Yang cukup membuat saya ngowoh adalah biaya TK berbahasa Inggris berkisar $1000 per bulan. Seperempat sampai sepertiga gaji bulanan middle class di Amerika hanya untuk biaya TK? Biaya yang para orang tua ini keluarkan dalam setahun dikabarkan melebihi anggaran pemerintah untuk pendidikan. Tapi jangan bandingkan dengan anggaran pemerintah kita tercinta. Belum lagi camp yang berjalan mulai dari hitungan minggu sampai bulan di English Village, sebuah kota yang sengaja dibangun untuk menciptakan nuansa luar negeri dengan berbahasa Inggris lengkap dengan imigrasi, kantor polisi, hotel, perpustakaan, teater, dan kafe-kafe. Katanya, bila ketahuan berbicara dalam bahasa selain Inggris bisa kena denda.

Belum cukup sampai di situ, pasar terus berkembang. Mengetahui animo para orang tua yang besar, kini meningkat pula praktek operasi lidah oleh para dokter bedah Korea. Kalau di showbiz ada Dokter Plastik, di dunia pendidikan (bahasa Inggris) ada Dokter Lidah. Para dokter ini mengatakan (setelah riset) bahwa lidah orang Korea secara genetik sulit mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris, terutama lafal L atau R yang memang sedikit rolling. Bagaimana ya, agak susah mengungkapkannya, seperti pengucapan” radio” dalam bahasa Inggris. Jadi, seperti sunat, lidah anak-anak kecil ini dioperasi (dipotong sedikit bagian bawah lidah) sehingga menjadi lebih bebas bergerak. Perubahan memang ada (they’d better be different karena memang dioperasi), tapi sampai sejauh inikah?

Lagi-lagi Korea mengalami perubahan lanskap bisnis yang fenomenal. Merasa ada kesamaan antara dunia hiburan dan pendidikan di Korea dalam perubahan lanskap bisnis? Tampaknya para dokter sedang memegang kendali di balik layar?

Karakteristik Anak Jakarta

Wednesday, January 9th, 2008

December 28, 2007 by yonna

Karakteristik anak Jakarta berbeda dengan karakteristik anak daerah. Ada yang positif dan ada pula yang negatif. Sebagai anak Jakarta tulen, saya setuju dan paham terhadap stereotype yang ditujukan pada anak-anak yang lahir dan besar di Jakarta. Mari kita bahas sedikit.

Anak Jakarta dikenal sebagai anak yang semau gue, sombong, tidak mandiri karena suka memerintah orang lain terutama grass root people, cenderung mengeluh saat tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, suka berpendapat yang terkadang mengarah kepada lancang, suka melontarkan kata-kata kotor saat marah, dan tidak mengindahkan etika sopan santun dan tata krama terutama saat bersikap kepada orang yang lebih tua. Sikap positifnya adalah anak Jakarta dikenal lebih pintar, lebih modern, lebih melek teknologi, lebih ramah dan senang bergaul, asertif dan terus terang mengemukakan pendapatnya, fisiknya lebih kuat dan sehat karena mendapat gizi cukup, dan lebih kelihatan bersih dan enak dipandang karena anak Jakarta selalu memperhatikan penampilan mereka.

Dari mana kita bisa mengetahui komentar orang daerah luar Jakarta terhadap anak Jakarta? Pastinya dari sikap kita terutama saat kita pindah ke daerah luar Jakarta atau saat menerima anak baru dari daerah luar Jakarta yang pindah ke Jakarta.

Seperti saat saya liburan ke Semarang, saya bermain sepeda bareng kakak dan saat itu hampir semua orang memelototi kami berdua dengan pandangan heran dan takjub. Merasa risih dan canggung diperlakukan seperti itu akhirnya kami urung melanjutkan tour de country dan pulang. Ternyata penduduk sekitar heran melihat keadaan fisik kami yang kebetulan berkulit putih dan berbicara bahasa Indonesia sehingga menjadi tontonan gratis penduduk sekitar. Saya tidak berniat menyombong dan merendahkan orang Semarang, tetapi memang kenyataannya begitu. Mungkin mereka juga merasa lucu melihat anak kecil main sepeda dan heboh sendiri. Contoh keterusterangan anak Jakarta sewaktu mengemukakan pendapatnya adalah waktu saya liburan ke Purwodadi bertemu dengan saudara yang lahir dan besar di sana. Saat kenalan tanpa segan saya menanyakan, “Bisa bahasa Indonesia kan?” Dan dia mengangguk. Duh ampun jreng, kalau ingat pengalaman itu saya suka ketawa sendiri. Untung dia tidak tersinggung. Karena saya pikir sebagai orang Jawa pasti dia lebih fasih berbahasa Jawa daripada berbahasa Indonesia makanya saya tanya dulu daripada terjadi pembicaraan bilingual di antara kami. Lagipula saya murni bertanya, tidak berniat melecehkan dia, sebagai sikap keterusterangan seorang anak kecil, itu saja.

Masalah lain adalah saat makan. Saat liburan ke Jawa, otomatis saya harus makan makanan khas daerah sana. Ada beberapa menu yang saya suka sampai sekarang dan ada juga yang tidak. Jadi ingat waktu liburan ke Solo, niat untuk wisata kuliner gagal lantaran saya pilih-pilih makanan dan tidak mau makan menu-menu yang tidak familiar. Akhirnya saya makan makanan yang umum saja. Tapi ada satu kuliner Solo yang saya suka yaitu Susu Shijack. Berhubung saya suka minum susu akhirnya cocok saat bertemu warung pinggir jalan yang menjual susu murni dari Boyolali. Kagum saat mengetahui ada warung jualan susu sementara di Jakarta belum ada. Padahal susu bukan kuliner khas, hanya cara menjualnya saja yang khas.

Sebagai bahan introspeksi diri, jika ada sifat buruk khas anak Jakarta dalam diri ini mari kita sama-sama perbaiki dari sekarang. Ingatlah, jika kita menganggap sesuatu itu biasa maka belum tentu dianggap biasa oleh orang lain.