Karakteristik Anak Jakarta
December 28, 2007 by yonna
Karakteristik anak Jakarta berbeda dengan karakteristik anak daerah. Ada yang positif dan ada pula yang negatif. Sebagai anak Jakarta tulen, saya setuju dan paham terhadap stereotype yang ditujukan pada anak-anak yang lahir dan besar di Jakarta. Mari kita bahas sedikit.
Anak Jakarta dikenal sebagai anak yang semau gue, sombong, tidak mandiri karena suka memerintah orang lain terutama grass root people, cenderung mengeluh saat tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, suka berpendapat yang terkadang mengarah kepada lancang, suka melontarkan kata-kata kotor saat marah, dan tidak mengindahkan etika sopan santun dan tata krama terutama saat bersikap kepada orang yang lebih tua. Sikap positifnya adalah anak Jakarta dikenal lebih pintar, lebih modern, lebih melek teknologi, lebih ramah dan senang bergaul, asertif dan terus terang mengemukakan pendapatnya, fisiknya lebih kuat dan sehat karena mendapat gizi cukup, dan lebih kelihatan bersih dan enak dipandang karena anak Jakarta selalu memperhatikan penampilan mereka.
Dari mana kita bisa mengetahui komentar orang daerah luar Jakarta terhadap anak Jakarta? Pastinya dari sikap kita terutama saat kita pindah ke daerah luar Jakarta atau saat menerima anak baru dari daerah luar Jakarta yang pindah ke Jakarta.
Seperti saat saya liburan ke Semarang, saya bermain sepeda bareng kakak dan saat itu hampir semua orang memelototi kami berdua dengan pandangan heran dan takjub. Merasa risih dan canggung diperlakukan seperti itu akhirnya kami urung melanjutkan tour de country dan pulang. Ternyata penduduk sekitar heran melihat keadaan fisik kami yang kebetulan berkulit putih dan berbicara bahasa Indonesia sehingga menjadi tontonan gratis penduduk sekitar. Saya tidak berniat menyombong dan merendahkan orang Semarang, tetapi memang kenyataannya begitu. Mungkin mereka juga merasa lucu melihat anak kecil main sepeda dan heboh sendiri. Contoh keterusterangan anak Jakarta sewaktu mengemukakan pendapatnya adalah waktu saya liburan ke Purwodadi bertemu dengan saudara yang lahir dan besar di sana. Saat kenalan tanpa segan saya menanyakan, “Bisa bahasa Indonesia kan?” Dan dia mengangguk. Duh ampun jreng, kalau ingat pengalaman itu saya suka ketawa sendiri. Untung dia tidak tersinggung. Karena saya pikir sebagai orang Jawa pasti dia lebih fasih berbahasa Jawa daripada berbahasa Indonesia makanya saya tanya dulu daripada terjadi pembicaraan bilingual di antara kami. Lagipula saya murni bertanya, tidak berniat melecehkan dia, sebagai sikap keterusterangan seorang anak kecil, itu saja.
Masalah lain adalah saat makan. Saat liburan ke Jawa, otomatis saya harus makan makanan khas daerah sana. Ada beberapa menu yang saya suka sampai sekarang dan ada juga yang tidak. Jadi ingat waktu liburan ke Solo, niat untuk wisata kuliner gagal lantaran saya pilih-pilih makanan dan tidak mau makan menu-menu yang tidak familiar. Akhirnya saya makan makanan yang umum saja. Tapi ada satu kuliner Solo yang saya suka yaitu Susu Shijack. Berhubung saya suka minum susu akhirnya cocok saat bertemu warung pinggir jalan yang menjual susu murni dari Boyolali. Kagum saat mengetahui ada warung jualan susu sementara di Jakarta belum ada. Padahal susu bukan kuliner khas, hanya cara menjualnya saja yang khas.
Sebagai bahan introspeksi diri, jika ada sifat buruk khas anak Jakarta dalam diri ini mari kita sama-sama perbaiki dari sekarang. Ingatlah, jika kita menganggap sesuatu itu biasa maka belum tentu dianggap biasa oleh orang lain.