Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan
Tuesday, April 15th, 2008Kita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah
sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan
program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui
permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang
paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin
tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai
bagian kota yang mesti disingkirkan.
Tulisan ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang upaya untuk
mengatasi kemiskinan di perkotaan sekaligus pula untuk meningkatkan
kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin.
Peremajaan Kota
Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur
permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya
yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut
pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk
menghilangkan kemiskinan dari perkotaan.
Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti
dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim
lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan
kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak
berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan
semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi
dengan lokasi permukimannya yang baru.
Di Amerika Serikat, pendekatan peremajaan kota sering digunakan pada
tahun 1950 dan 1960-an. Pada saat itu permukiman-permukiman masyarakat
miskin di pusat kota digusur dan diganti dengan kegiatan perkotaan
lainnya yang dianggap lebih baik. Peremajaan kota ini menciptakan
kondisi fisik perkotaan yang lebih baik tetapi sarat dengan masalah
sosial. Kemiskinan hanya berpindah saja dan masyarakat miskin yang
tergusur semakin sulit untuk keluar dari kemiskinan karena akses mereka
terhadap pekerjaan semakin sulit.
Peremajaan kota yang dilakukan pada saat itu sering disesali oleh
para ahli perkotaan saat ini karena menyebabkan timbulnya masalah
sosial seperti kemiskinan perkotaan yang semakin akut, gelandangan dan
kriminalitas. Menyadari kesalahan yang dilakukan masa lalu, pada awal
tahun 1990-an kota-kota di Amerika Serikat lebih banyak melibatkan
masyarakat miskin dalam pembangunan perkotaannya dan tidak lagi
menggusur mereka untuk menghilangkan kemiskinan di perkotaan.
Aktivitas Hijau oleh Masyarakat Miskin
Paling sedikit saya menemukan dua masyarakat miskin di Jakarta yang
melakukan aktivitas hijau untuk meningkatkan kualitas lingkungan
sembari menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin. Seperti
dapat ditemui di Indonesia’s Urban Studies,
masyarakat di Penjaringan, Jakarta Utara dan masyarakat kampung Toplang
di Jakarta Barat mereka mengelola sampah untuk dijadikan kompos dan
memilah sampah nonorganik untuk dijual.
Aktivitas hijau di Penjaringan, Jakarta Utara dilakukan melalui
program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri yang diprakarsai oleh Mercy
Corps Indonesia. Masyarakat miskin di Penjaringan terlibat aktif tanpa
terlalu banyak intervensi dari Mercy Corps Indonesia. Program berjalan
dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan kumuh di
Penjaringan. Masyarakat di Penjaringan sangat antusias untuk melakukan
kegiatan ini dan mereka yakin untu mampu mendaurlang sampah di
lingkungannya dan menjadikannya sebagai lapangan pekerjaan yang juga
akan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan di lingkungannya.
Sementara itu aktivitas hijau di kampung Toplang, Jakarta Barat
diprakarsai oleh dua orang pemuda kampung tersebut yang juga adalah
aktivis Urban Poor Consortium dan mengetahui bisnis pendaurulangan
sampah. Kedua orang ini mampu meyakinkan rekan-rekan di kampungnya
untuk melakukan kegiatan daur ulang sampah. Seperti yang terjadi di
Penjaringan, masyarakat kampung Toplang mendukung penuh dan antusias
terhadap bisnis pendaurulangan sampah ini. Malahan mereka optimis bahwa
kegiatan mereka juga dapat mendaurulang sampah dari luar kampung mereka
dan menciptakan lebih banyak pendapatan bagi masyarakat kampung Toplang.
Kedua aktivitas hijau tersebut adalah wujud pemberdayaan masyarakat
miskin untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan sekaligus
mengentaskan kemiskinan. Peranan Mercy Corps Indonesia yang
memprakarsai program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri di
Penjaringan, Jakarta Utara dan dua orang aktivis pemuda asal kampung
Toplang yang memprakarsai aktivitas hijau di kampung Toplang adalah
sangat vital dalam upaya pemberdayaan masyarakat ini. Tanpa inisiatif
mereka, pemberdayaan masyarakat miskin tidak akan terjadi dan
kemiskinan tetaplah menjadi masalah di kedua permukiman kumuh tersebut.
Penutup
Cara untuk mengatasi kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan
permukiman masyarakat miskin adalah tidak dengan menggusurnya.
Penggusuran hanyalah menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin
akut dan pelik. Penggusuran atau sering diistilahkan sebagai peremajaan
kota adalah cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan.
Aktivitas hijau seperti yang dilakukan oleh masyarakat Penjaringan
dan Kampung Toplang merupakan bukti kuat bahwa masyarakat miskin mampu
meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan juga mengentaskan
kemiskinan. Masyarakat miskin adalah salah satu komponen dalam
komunitas perkotaan yang mesti diberdayakan dan bukannya digusur.
Solusi yang berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan dan permukiman
kumuh di perkotaan adalah pemberdayaan masyarakat miskin dan bukanlah
penggusuran.